Sayangku…
Setelah 26 kali bersama bumi aku memutari matahari. Baru kali ini aku melihat titik-titik putih dingin yang turun dari langit abu-abu itu. Tak akan kulupakan kejadian itu, tadi pagi sekitar jam 8 aku sedang asyik bercermin di dalam kamar mandi. Sembari menuliskan namamu dengan jariku di kaca yang berembun. Temanku datang mengetuk pintu, “cepat! cepat!” katanya. Tapi tak kuhiraukan dia, karena aku sedang khusyuk berduaan dengan khayalan bersamamu.
“Lihatlah ke luar jendela” ujar temanku tadi setelah aku masuk ke dalam kamar. Dengan penasaran ku buka kain putih penutup jendela. “Ahhh… salju! Ini salju. Kar yagiyor... Salju turun.” teriak kecilku kegirangan. Langsung saja aku berlari kecil keluar balkon rumah yang aku tinggali, sembari berhati-hati karena rumah yang kutinggali ada di lantai tiga, kutengadahkan tangan berharap titik-titik kristal itu jatuh di telapak tanganku, bentuknya seperti kristal-kristal lembut yang saling berpelukan menyatu, ketika kulihat turunnya dari langit kelabu itu, seperti ada bidadari yang menaburkan kapas-kapas indah dari surga, kukatakan dari surga karena aku tak pernah melihat pemandangan seperti itu selama 26 tahun ini. Sayangku,,, sungguh aku senang melihat salju turun pertama kali melewati bayangan mataku.
Sayangku…
Setelah 26 kali bersama bumi aku memutari matahari. Baru kali ini aku melihat titik-titik putih dingin yang turun dari langit abu-abu itu. Tak akan kulupakan kejadian itu, tadi pagi sekitar jam 8 aku sedang asyik bercermin di dalam kamar mandi. Sembari menuliskan namamu dengan jariku di kaca yang berembun. Temanku datang mengetuk pintu, “cepat! cepat!” katanya. Tapi tak kuhiraukan dia, karena aku sedang khusyuk berduaan dengan khayalan bersamamu.
“Lihatlah ke luar jendela” ujar temanku tadi setelah aku masuk ke dalam kamar. Dengan penasaran ku buka kain putih penutup jendela. “Ahhh… salju! Ini salju. Kar yagiyor... Salju turun.” teriak kecilku kegirangan. Langsung saja aku berlari kecil keluar balkon rumah yang aku tinggali, sembari berhati-hati karena rumah yang kutinggali ada di lantai tiga, kutengadahkan tangan berharap titik-titik kristal itu jatuh di telapak tanganku, bentuknya seperti kristal-kristal lembut yang saling berpelukan menyatu, ketika kulihat turunnya dari langit kelabu itu, seperti ada bidadari yang menaburkan kapas-kapas indah dari surga, kukatakan dari surga karena aku tak pernah melihat pemandangan seperti itu selama 26 tahun ini. Sayangku,,, sungguh aku senang melihat salju turun pertama kali melewati bayangan mataku.
Sayangku…
Pagi ini aku tak mandi. Karena aku malas?! Tentu tidak! Karena beberapa hari ini cuaca sangat dingin, bahkan sudah ku hitung ternyata sudah empat hari aku tak melihat matahari (kok tiba-tiba ingat suasana film The moon ya). Sayangku, pagi ini aku begitu terburu-buru ingin berangkat kuliah, karena aku rajin?!... sayangnya tidak!. Karena aku ingin cepat keluar rumah, merasakan ditetesi butiran dingin itu, aku ingin melakukan adegan yang sebelumnya hanya ada dalam bayanganku: berputar-putar, memejamkan mata, menengadahkan wajah ke langit sembari tersenyum geli merasakan tiap tetes salju yang menciumi wajahku. Dan adegan ini sudah ku lakukan tadi pagi. Ketika ku melakukannya tak kuhiraukan beberapa temanku yang tertawa-tawa karena melihat tingkahku dari jendela lantai tiga rumah bersama kami itu.
Sayangku…
Begitu tiba di kelas, aku bercerita kepada guru dan teman-temanku tentang perasaanku hari ini. Entah mereka faham atau tidak, karena bahasa turki-ku masih lebih berantakan daripada gado-gado yang sering kita nikmati bersama di persimpangan jalan Ciputat itu. Aku katakana pada mereka: bugun ben cok mutluyum, cunku bu sabah kar yagdi, ve ben bu kari hayatim’da ilk defa gordum (hari ini aku senang sekali karena pagi hari sudah turun salju. Saya senang karena ini pertama kali saya melihat salju” dan di kelas, aku berkali-kali sibuk menolehkan pandanganku ke arah jendela di sampingku, tentu saja karena kapas-kapas putih dari langit itu yang menggodaku untuk meliriknya. Lamunanku beralih 15-16 tahun yang lalu, ketika aku mengira bahwa salju adalah potongan-potongan awan putih yang berjatuhan karena tak kuat menahan badan Superman yang sedang asyik tiduran di atas awan.
Sayangku…
Sore ketika aku selesai kuliah, sembari berjalan memegang payung menahan salju yang tumpah dari langit itu, sesekali aku menoleh kanan-kiri, jika tak ada orang, aku akan menutup payung dan menmbuka mulutku menghadap langit, sayang,,,, sungguh, rasa es krim yang pernah kita nikmati bersama sembari berjalan berdua dulu masih lebih nikmat daripada salju ini.
Sayangku….
Tiba di rumah aku langsung masuk ke kamar, masih saja tak puas menikmati salju, aku buka jendela kamarku, ku tatap
kembail air beku dari langit itu. Dan aku bersyukur atas pemandangan yang ku lihat hari ini.
Sayangku…
Dalam cerita tentang salju pertamaku ini, ada hal yang aku ingin kamu tahu. Bahwa ada kerinduan kepadamu pada tiap titik-titik salju yang menhujaniku. Bahwa ketika aku menengadahkan wajahku ke langit, bersama tetes salju yang mencumbuiku, ada titik air mata yang mengalir karena merindukanmu. Air mataku mencairkan tiap tetes salju yang menerpa wajahku sayang.
Sayangku…
Malam ini salju tak turun sehebat tadi pagi. Baru saja aku keluar rumah membeli sembako di toko depan karena hari ini adalah jadwalku memasak untuk makan bersama-sama, di dekat toko, di tikungan jalan ada sebuah lampu yang besar. Sungguh, pemandangannya indah sekali, cahaya lampu kuning di tengah gelapnya malam yang dingin, lalu dihujani salju tipis. Semua benar-benar hening. Lama aku memandangi suasana itu, tapi sungguh…. Ada pemandangan yang lebih indah di hatiku, pemandangan tentang hujan rindu dari hatimu.
Sayangku… kamu terlalu banyak menghujani hatiku dengan kerinduan ini.
Trabzon-Turkiye
23.15.
17 Januari 2012
Sayangku…
Begitu tiba di kelas, aku bercerita kepada guru dan teman-temanku tentang perasaanku hari ini. Entah mereka faham atau tidak, karena bahasa turki-ku masih lebih berantakan daripada gado-gado yang sering kita nikmati bersama di persimpangan jalan Ciputat itu. Aku katakana pada mereka: bugun ben cok mutluyum, cunku bu sabah kar yagdi, ve ben bu kari hayatim’da ilk defa gordum (hari ini aku senang sekali karena pagi hari sudah turun salju. Saya senang karena ini pertama kali saya melihat salju” dan di kelas, aku berkali-kali sibuk menolehkan pandanganku ke arah jendela di sampingku, tentu saja karena kapas-kapas putih dari langit itu yang menggodaku untuk meliriknya. Lamunanku beralih 15-16 tahun yang lalu, ketika aku mengira bahwa salju adalah potongan-potongan awan putih yang berjatuhan karena tak kuat menahan badan Superman yang sedang asyik tiduran di atas awan.
Sayangku…
Sore ketika aku selesai kuliah, sembari berjalan memegang payung menahan salju yang tumpah dari langit itu, sesekali aku menoleh kanan-kiri, jika tak ada orang, aku akan menutup payung dan menmbuka mulutku menghadap langit, sayang,,,, sungguh, rasa es krim yang pernah kita nikmati bersama sembari berjalan berdua dulu masih lebih nikmat daripada salju ini.
Sayangku….
Tiba di rumah aku langsung masuk ke kamar, masih saja tak puas menikmati salju, aku buka jendela kamarku, ku tatap
kembail air beku dari langit itu. Dan aku bersyukur atas pemandangan yang ku lihat hari ini.
Sayangku…
Dalam cerita tentang salju pertamaku ini, ada hal yang aku ingin kamu tahu. Bahwa ada kerinduan kepadamu pada tiap titik-titik salju yang menhujaniku. Bahwa ketika aku menengadahkan wajahku ke langit, bersama tetes salju yang mencumbuiku, ada titik air mata yang mengalir karena merindukanmu. Air mataku mencairkan tiap tetes salju yang menerpa wajahku sayang.
Sayangku…
Malam ini salju tak turun sehebat tadi pagi. Baru saja aku keluar rumah membeli sembako di toko depan karena hari ini adalah jadwalku memasak untuk makan bersama-sama, di dekat toko, di tikungan jalan ada sebuah lampu yang besar. Sungguh, pemandangannya indah sekali, cahaya lampu kuning di tengah gelapnya malam yang dingin, lalu dihujani salju tipis. Semua benar-benar hening. Lama aku memandangi suasana itu, tapi sungguh…. Ada pemandangan yang lebih indah di hatiku, pemandangan tentang hujan rindu dari hatimu.
Sayangku… kamu terlalu banyak menghujani hatiku dengan kerinduan ini.
Trabzon-Turkiye
23.15.
17 Januari 2012
0 blogger-facebook:
Post a Comment