Ini tentang sebuah tangisan.
Dua puluh empat tahun yang lalu seorang wanita menjerit kesakitan, dan aku menenangkannya hanya dengan sebuah tangisan ketika aku mrojol di dunia untuk pertama kalinya.
Ini tentang sebuah tangisan.
Dulu aku merengek menangis dengan kaki menendang-nendang karena
Dua puluh empat tahun yang lalu seorang wanita menjerit kesakitan, dan aku menenangkannya hanya dengan sebuah tangisan ketika aku mrojol di dunia untuk pertama kalinya.
Ini tentang sebuah tangisan.
Dulu aku merengek menangis dengan kaki menendang-nendang karena
melihat sepatu yang tak terbeli untuk pertama kalinya aku masuk di sekolah kanak-kanak, dan tangisku pun berhenti hanya dengan sepatu bekas kakak ku.
Ini tentang sebuah tangisan.
Aku juga pernah meronta-ronta karena tangan mungilku yang menengadah meminta uang tak juga diberikan sekedar untuk jajan.
Ini tentang sebuah tangisan.
Mata-mata itu pernah meneteskan air mata diam-diam ketika aku terbaring sakit di atas kasur putih.
Ini tentang sebuah tangisan.
Munajat yang paling dalam pun ku haturkan kepadaNya dengan tangisan mengharap. Kabulkan.... kabulkan...
Ini tentang sebuah tangisan.
Ketika aku mengahaap cinta, pipi ku pun menjadi sungai atas air mata pada setiap malam karena kerinduan-kerinduan.
Dan aku kan terus melangkah dengan air mata-air mata....
hingga saatnya kita berkumpul di sana... di tempat yang dibanjiri oleh air mata bahagia.
Untuk abah dan umi... aku tak kan lupa akan setiap air mata yang kalian teteskan dalam munajat-munajat doa untukku....
Ini tentang sebuah tangisan.
Aku juga pernah meronta-ronta karena tangan mungilku yang menengadah meminta uang tak juga diberikan sekedar untuk jajan.
Ini tentang sebuah tangisan.
Mata-mata itu pernah meneteskan air mata diam-diam ketika aku terbaring sakit di atas kasur putih.
Ini tentang sebuah tangisan.
Munajat yang paling dalam pun ku haturkan kepadaNya dengan tangisan mengharap. Kabulkan.... kabulkan...
Ini tentang sebuah tangisan.
Ketika aku mengahaap cinta, pipi ku pun menjadi sungai atas air mata pada setiap malam karena kerinduan-kerinduan.
Dan aku kan terus melangkah dengan air mata-air mata....
hingga saatnya kita berkumpul di sana... di tempat yang dibanjiri oleh air mata bahagia.
Untuk abah dan umi... aku tak kan lupa akan setiap air mata yang kalian teteskan dalam munajat-munajat doa untukku....
0 blogger-facebook:
Post a Comment